Addariah IADI

MENCARI MAKNA di DUNIA yang TERLALU RASIONAL

St. Maryam Sultan

Akal adalah anugerah yang sangat besar. Dengannya, manusia bisa membedakan, menimbang, dan mengambil keputusan. Akan tetapi akal juga punya batas, ia mampu menghitung peluang, tapi tidak mampu menjawab setiap kali rasa kosong datang menghampiri. Dari situlah kita mulai sadar, pengetahuan yang lahir dari rasio saja belum cukup. Ada lapisan lain dalam diri yang perlu disentuh, sesuatu yang lebih halus, lebih dalam, dan lebih jujur dari sekadar logika. Lapisan itu adalah ruh.

Perjalanan dari rasio menuju ruh adalah perjalanan dari kepala menuju hati, dari tahu menuju sadar. Ini bukan tentang menolak berpikir, melainkan menyeimbangkan logika dengan keheningan batin. Ketika rasio dan ruh berdialog, pengetahuan tak lagi hanya jadi tumpukan teori, tapi berubah menjadi kebijaksanaan yang hidup. Mungkin inilah makna sejati dari belajar, “bukan hanya menambah wawasan, tapi memperluas kesadaran”. Sebab pada akhirnya, yang membuat manusia utuh bukan seberapa banyak ia tahu, tapi seberapa dalam ia mengenal dirinya sendiri.

Namun, pemahaman seperti itu tidak datang seketika. Ia menuntut keberanian untuk meninjau ulang cara kita memandang pengetahuan. Selama ini, kita terlalu percaya pada kekuatan logika dan metode ilmiah, seakan kebenaran hanya bisa diukur oleh angka dan rumus. Padahal, di balik segala kepastian rasional itu, ada kerinduan akan sesuatu yang tak bisa dijangkau pikiran, sesuatu yang ingin dihayati, bukan dibuktikan.

Rasio adalah bagian dari diri manusia yang bekerja dengan keteraturan. Ia menuntun kita memahami sebab-akibat, mencari pola dari yang tampak acak, dan menegakkan logika agar dunia terasa masuk akal. Seperti yang ditulis Akbar Novianto (2023) dalam Rasio Manusia dan Narasi Postmodern, kemampuan ini bertumpu pada akal yang berpijak pada hukum kausalitas, sebuah cara berpikir yang menjadi dasar ilmu pengetahuan modern. Namun di balik ketajamannya, rasio juga membawa jarak. Ia melatih kita untuk membuktikan, tapi sering membuat kita lupa untuk merasakan. Di situlah batas itu nampak, bahwa tidak semua yang benar bisa dijelaskan, dan tidak semua yang bisa dijelaskan pasti benar.

Seiring waktu, manusia mulai gelisah dengan cara berpikir yang terlalu kaku. Dari kegelisahan itu lahirlah pandangan baru yang disebut postmodernisme, sebuah upaya menimbang ulang makna kebenaran. Novianto menyebut bahwa postmodernisme menolak pandangan tunggal tentang realitas, dan memberi ruang bagi rasa serta nurani untuk ikut berbicara. Kebenaran tidak lagi harus mutlak, tapi bisa hadir dalam banyak bentuk dan pengalaman. Dalam pandangan ini, pengetahuan menjadi lebih lentur, lebih manusiawi. Kita mulai belajar bahwa memahami dunia tidak cukup dengan kepala, tapi juga dengan hati.

Sayangnya, di tengah gemuruh kemajuan yang dibangun atas nama rasionalitas, manusia modern justru terperangkap dalam tatanan yang ia ciptakan sendiri. Rasio yang awalnya menjadi alat untuk memahami dunia, kini menjelma menjadi pusat kekuasaan yang mengatur hampir segala hal, dari cara berpikir, bekerja, bahkan merasa. Dalam refleksi Irwandra, Dialektika Rasio dan Moral, ilmu pengetahuan modern telah bergeser dari sarana pencarian makna menjadi instrumen produksi kebenaran yang mekanistik. Akibatnya, manusia tidak lagi menuntut ilmu, melainkan dituntun olehnya. Hidup menjadi serba terukur, efisien, dan rasional, tapi kehilangan sisi lembut yang memberi kedalaman. Dalam dunia yang terlalu dikendalikan oleh logika, kebenaran seolah hanya milik mereka yang bisa menjelaskannya secara ilmiah, adapun yang bersifat batiniah dianggap tak lagi relevan bagi dunia yang mengejar kepastian.

Kondisi itu melahirkan paradoks yang menyakitkan ‘semakin maju ilmu pengetahuan, semakin dangkal rasa kemanusiaan’. Seperti digambarkan Irwandra, ketika ilmu memutus hubungan dengan nilai moral dan spiritual, yang tersisa hanyalah struktur pengetahuan tanpa jiwa. Ilmu menjadi seperti tubuh yang bergerak tanpa arah, sibuk membangun, tapi lupa bertanya mengapa harus dibangun. Manusia pun terjebak dalam kegelisahan yang tak bernama, dikelilingi data tapi haus makna; dikepung kemudahan tapi kehilangan kedamaian. Maka yang rusak bukan hanya keseimbangan pengetahuan, tapi juga keseimbangan diri. Di sinilah dialektika antara rasio dan ruh menemukan konteks paling nyata, bahwa ilmu tanpa nilai hanyalah sinar yang menyilaukan, bukan cahaya yang menerangi.

Setelah melalui fase panjang keterasingan, manusia mulai merindukan keutuhan yang hilang. Di tengah hiruk-pikuk kemajuan yang tak pernah berhenti, muncul kebutuhan untuk berhenti sejenak. Bukan karena lelah bekerja, tapi karena haus akan makna. Dr. Anas Amin Alamsyah (UINSA) dalam tulisannya Kemajuan yang Menciptakan Kehampaan menggambarkan situasi ini dengan tajam, dunia modern yang begitu efisien justru sering kehilangan rasa hadir. Segalanya bekerja dengan sempurna, tapi manusia di dalamnya kian terasa hampa.

Menurut Alamsyah, kehampaan itu lahir ketika manusia hidup hanya dengan rasio, tapi melupakan ruhnya. Rasio membawa kita pada kemajuan, tapi ruhlah yang menjaga arah dan makna dari setiap perubahan. Ketika keduanya tercerai, hidup menjadi cepat tapi dangkal, ramai tapi sepi. Modernitas bukan kesalahan, karna yang keliru adalah cara kita berada di dalamnya, ketika manusia hanya berperan sebagai pengendali mesin, bukan pengemban makna.

Jalan keluar dari krisis ini, kata Alamsyah, bukanlah menolak modernitas, melainkan menata ulang cara kita hidup di tengahnya. Pemulihan dimulai ketika manusia berani memperlambat langkah, belajar kembali untuk mendengar, merasakan, dan hadir dengan sepenuh jiwa. Dalam keheningan yang jujur, kita mulai menemukan kembali ruang batin yang hilang. Di sanalah rasio dan ruh tidak lagi bertentangan, melainkan saling menuntun, rasio menjaga agar langkah tetap nyata, dan ruh memastikan arah tetap bermakna.

Kesadaran semacam ini mengingatkan kita bahwa kemajuan sejati bukan soal seberapa jauh kita melangkah, tapi seberapa dalam kita hadir. Dunia tidak harus ditinggalkan, tapi cukup dihadapi dengan cara yang lebih sadar dan manusiawi. Dengan begitu, kita tidak sekadar hidup di tengah kemajuan, tetapi benar-benar hidup dengan jiwa yang utuh, hadir, dan merasakan.

Setelah menelusuri gagasan Alamsyah tentang keterpisahan antara rasio dan ruh, La Ode Mustawwadhaar menambahkan lapisan baru pada krisis kesadaran manusia modern. Menurutnya, keterasingan hari ini menemukan bentuk paling konkret di ruang digital, tempat di mana tubuh dan kesadaran berjalan dalam dua waktu yang tak pernah benar-benar bertemu.

Ia menyebut kondisi ini sebagai diskronitas eksistensial, yaitu keadaan ketika tubuh biologis manusia yang hidup dalam ritme alamiah dipaksa beradaptasi dengan kecepatan digital yang tak mengenal jeda. Kita hidup di dunia yang selalu menuntut respons cepat, tanpa ruang untuk keheningan, penundaan, atau refleksi. Akibatnya, manusia kehilangan kemampuan untuk merasakan waktu sebagai sesuatu yang mengalir dan bermakna.

Dalam pandangan Mustawwadhaar, inilah akar baru keterasingan, “manusia hidup di antara dua ritme yang bertentangan”. Tubuh masih membutuhkan waktu untuk memahami dan mengendapkan, sementara kesadaran digital terus dikejar oleh arus informasi yang tak berhenti. Antara “aku yang tampil” di dunia maya dan “aku yang mengalami” di dunia nyata, terbentang jurang yang semakin dalam.

Lebih jauh, dunia digital menciptakan ilusi kebebasan yang justru melahirkan keterikatan baru. Algoritma menggantikan ruang refleksi, dan visibilitas menggantikan makna. Dalam kebisingan notifikasi dan arus representasi, manusia kehilangan daya imunologis kesadarannya, ia kehilangan kemampuan untuk memilih, menunda, dan menafsirkan.

Mustawwadhaar melihat krisis ini bukan sekadar kehilangan makna, tapi keruntuhan struktur pengetahuan itu sendiri, ketika kecepatan menghapus kedalaman, ketika keterhubungan meniadakan kehadiran. Dalam ruang digital, pengetahuan tidak lagi tumbuh dari kontemplasi, tetapi dari respons instan yang tak sempat menjadi pemahaman. Maka, jika pada masa lalu krisis pengetahuan muncul dari benturan antara rasio dan ruh, kini ia menjelma dalam bentuk baru, berupa benturan antara tubuh dan kesadaran digital. Rasio kehilangan waktu untuk merenung, ruh kehilangan ruang untuk hadir, dan manusia kehilangan dirinya di antara keduanya.

Dalam perjalanan memahami hubungan antara rasio dan ruh, pemikiran Haidar Bagir dalam Islam Tuhan Islam Manusia membuka jalan yang jernih. Ia menegaskan bahwa akal dalam Islam bukan sekadar alat berpikir logis, tetapi juga bagian dari laku spiritual manusia. Al-Qur’an berulang kali memanggil manusia untuk tafakur dan tadabur, bukan hanya agar cerdas secara intelektual, tapi agar sadar secara ruhani.

Akal, dalam sejarah Islam, punya lapisan-lapisan makna. Dalam bidang fikih, akal dipahami sebagai ra’yu: kemampuan menimbang dan memutuskan perkara hukum. Di sini, akal bekerja secara praktis, mencari kejelasan dalam tindakan. Dalam teologi, akal menjadi alat logika untuk menyusun dalil-dalil keimanan. Rasio berperan penting, tapi kadang berhenti di perdebatan yang kering. Dalam filsafat, akal naik derajat menjadi sarana memahami hakikat keberadaan, menelusuri realitas dari sebab hingga tujuan melalui metode demonstratif (burhani).

Namun, dalam lingkup tasawuf dan hikmah, akal berubah wajah. Ia tidak lagi hanya menalar, tapi mengenal. Di sinilah akal bertemu ruh, dan pengetahuan bukan lagi hasil olah pikir, melainkan hasil olah jiwa. Haidar menyebutnya sebagai pengetahuan hudhuri, pengetahuan yang “hadir” langsung di dalam kesadaran, seperti cahaya yang tak perlu dijelaskan untuk bisa dipahami. Akal yang disucikan dari nafsu dan kesombongan berubah menjadi cermin yang memantulkan kebenaran Ilahi.

Maka perjalanan pengetahuan sejati adalah perjalanan naik, ‘dari akal yang bekerja menuju akal yang mengenal, dan dari rasio yang menganalisis menuju ruh yang mengalami’. Keduanya bukan bertentangan, tapi saling menuntun, sebagaimana bumi menahan langkah agar tak melayang, dan langit memberi arah agar tak tersesat. Di sanalah manusia menemukan makna terdalam dari “beragama dengan akal” yakni berpikir sebagai bentuk ibadah, dan beribadah dengan kesadaran yang berpikir.

Kini, kita mulai paham, bahwa pengetahuan bukan semata perkara seberapa banyak kita tahu, tapi seberapa dalam kita hadir. Rasio menuntun kita memahami dunia, tapi ruh mengajarkan cara menghidupkan dunia itu dengan penuh kesadaran. Selama ini, kita terlalu sibuk mencari kebenaran di luar, sampai lupa bahwa sebagian jawabannya justru bersembunyi di dalam diri.

Haidar Bagir benar, akal sejati bukanlah yang berdiri sendiri, melainkan yang bersujud bersama hati. Ia berpikir bukan untuk merasa lebih tinggi, tapi untuk semakin mengenal keterbatasannya di hadapan Yang Tak Terbatas. Dari sinilah pengetahuan menjadi ibadah, sebuah perjalanan menuju kebenaran yang tak hanya berhenti di kepala, melainkan sampai menyentuh jiwa.

Dan mungkin, di titik ini, kita mulai memahami, bahwa kemajuan sejati bukanlah seberapa cepat kita berpikir, tapi seberapa lembut kita memahami. Rasio dan ruh bukan dua arah yang saling meniadakan, melainkan dua sayap yang membawa manusia terbang kembali ke asalnya, kepada keheningan tempat segala pengetahuan bermula.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *