
Oleh : Muhammad Fadhli
Islam, Iman dan Ihsan adalah tiga hal utama dalam agama Islam. Ketiga hal tersebut menjadi dasar dan asas utama dalam berdirinya agama Islam yang kita kenal saat ini, darinya agama Islam tumbuh dan berkembang luas mengikuti perkembangan zaman, tetapi dengan mengikuti koridor-koridor yang telah ditentukan oleh Allah Swt. sejak awal.
Islam, Iman dan Ihsan merupakan satu hal padu yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lain, karena ketiga hal tersebut merupadan unsur-unsur agama. Iman adalah keyakinan serta kepercayaan seorang muslim yang menjadi dasar dalam akidah. Keyakinan tersebut kemudian diwujudkan dengan bukti nyata melalui pelaksanaan kelima rukun Islam. Yang mana pelaksanaan rukun Islam dilakukan dengan cara yang Ihsan, sebagai upaya pendekatan diri kepada Allah Swt.
Ihsan merupakan tingkatan tertinggi yang menyempurnakan keduanya. Ihsan yang berarti melakukan sesuatu dengan baik, sempurna atau memberikan kebaikan. Dalam terminologi Islam, Ihsan memiliki makna yang sangat dalam dan berkaitan erat dengan kualitas ibadah seorang muslim, malaikat Jibril As. menjelaskan dalam hadis “Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah Swt. seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatmu.” (HR. Muslim). yang mana dalam hal ini, Ihsan selalu dihubungkan dengan ajaran tasawuf.
Anregurutta -sebuah istilah gelar bagi seorang ulama Sulawesi Selatan, yang semakna dengan gelar kyai di Jawa, buya di Minang, tuan guru di Banjarmasin dan Nusa Tenggara barat- Abdurrahman Ambo Dalle menjelaskan dalam karyanya yang berjudul al-qaul al-shadiq fi ma’rifatil Khalik mengenai tasawuf yang ditulis langsung oleh beliau dalam dua Bahasa, yaitu Bahasa arab dan Bahasa bugis. Sebuah kitab berisikan mengenai ajaran tasawuf yang ditulis pada tanggal 19 dzulhijjah 1374 H yang bertepatan dengan tanggal 8 Agustus 1955 M. dan selesai ditulis pada hari rabu 5 Muharram 1375 bertepatan dengan tanggal 24 Agusuts 1955 di pare-pare.
Mengenai hubungan syariat dan tasawuf, secara eksplisit tidak disebutkan dalam karyanya ini, akan tetapi paling tidak secara inplisit dapat dipahami bahwa anregurutta Abdurrahman Ambo Dalle di dalam kitabnya al-qaul al-shadiq fi ma’rifatil Khalik sebagaimana yang ditegaskan bahwa salah satu ukuran seorang hamba yang bisa dikategorikan sebagai hamba Allah Swt. itu adalah sejauhmana di dalam kehidupan sehari-harinya menjalankan ibadah kepada Allah Swt., baik ibadah mahdah maupun ibadah muamalah.
Menurut anregurutta, syariat dan tasawuf memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Beliau menjelaskan bahwa syariat adalah sebuah ibadah jasmani yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat jasmani, yaitu tentang tata cara berhubungan denga Allah Swt., adapun tasawuf lebih banyak berhubungan dengan hal-hal yang bersifat batin yang menjadi penghias ibadah fisik.
Beliau menjelaskan lebih lanjut, ibadah dibagi menjadi dua bagian, yaitu ibadah lahiriah (aspek fiqh) dan ibadah batiniah (aspek Rohani). Aspek lahiriah merupakan ibadah yang kita lakukan dengan anggota tubuh kita yang mana secara lahir dapat dilihat dengan mata kepala itu sendiri seperti halnya sholat, zakat, haji dan lainnya. Sementara ibadah batiniah adalah ibadah yang dilakukan oleh gerakan hati, misalnya berdzikir kepada Allah Swt., tawakkal, sabar, syukur dan lain-lainnya.
Ibadah lahiriah -menurut Anregurutta- terbagi lagi menjadi dua bagian, yaitu pertama, ibadah yang langsung kepada Allah Swt., ibadah ini yang diwajibakan oleh Allah Swt. kepada setiap individu, jadi seorang hamba baru bisa dikatakan beribadah apabila ia sendiri yang melakukannya, bukan orang lain. Adapun pembagian yang kedua, adalah ibadah muamalah, yaitu sebuah ibadah yang menyangkut hubungan antar sesama manusia dengan manusia yang lainnya, seperti jual beli, tolong menolong dan berbagai kegiatan yang menyangkut hubungan sosial.
Adapun ibadah batin, merupakan suatu ibadah yang diperankan oleh hati. Anregurutta dalam karyanya menjelaskan bahwa untuk melaksanakan ibadah seperti ini, seorang hamba harus terlebih dahulu membersihkan hatinya atau dengan tidak mengikuti hawa nafsunya, karena hawa nafsu dapat mengantarkan dan mendorong seseorang untuk berbuat dosa dan kejahatan.
Kemudian lebih lanjut, ibadah batiniah juga terbagi menjadi dua bagian, yang pertama ibadah batin yang langsung kepada Allah Swt. seperti syukur, sabar dan lainnya sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya. Dan yang kedua, ibadah batin yang langsung kepada Allah Swt. dengan melalui perantara ciptaannya, yaitu suatu konsep ibadah batin dengan melalui perantara ciptaan Allah Swt. untuk dapat mengingat dan mencapai ma’rifat kepada Allah Swt.
Anregurutta menjelaskan, bahwa meskipun hati atau akal dapat memikirkan ciptaan Allah Swt. tetapi belum tentu bisa mencapai pengetahuan tentang hakikat Allah Swt. Hal ini sebagaimana yang dikutip dalam sebuah hadis Rasulullah Saw:
تفكروا في خلق الله ولا تفكروا في ذات الله فتهلكوا
Artinya “Pikirkanlah mengenai segala sesuatu (yang diciptakan Allah Swt.), tetapi janganlah kalian memikirkan tentang Dzat Allah Swt., karena kalian akan rusak”.
dari penjelasan di atas, dapat kita ketahui bahwa corak atau paham tasawuf anregurutta Abdurrahman ambo dalle yang terdapat dalam karya-karyanya adalah bercorak sunni atau amali, yaitu di mana di dalam pengamalan ibadah-ibadah yang dilakukan adalah penggabungan antara dua macam ibadah, yaitu ibadah dzahir dan ibadah batin tanpa mementingkan salah satunya.
Pemahaman beliau mengenai keterikatan antara ibadah dzahir dan batin atau antara syariat dan tasawuf secara global memiliki unsur kesamaan dengan imam al-Ghazali dan Junaid al-Bahgdadi. Dalam al-munqiz min al-dhalalah, imam al-Ghazali menyatakan pengalaman ruhaniahnya ketika sampai pada kesimpulan bahwa akan pentingnya tasawuf setelah syariah. Lebih lanjut beliau menyatakan bahwa dengan tasawuf akan dapat diperoleh hasil yang tidak didapatkan oleh ilmu lainnya.
Sementara Junaid al-Baghdadi terkesan lebih sedikit ekstrim ketika seorang mengabaikan syariat dalam menjalan tasawuf. Hal ini terlihat ketika beliau mendapati sebuah cerita mengenai seseorang yang telah mencapai tingkat ma’rifat yang mana kemudian orang tersebut dibebaskan oleh Allah Swt. dari amal ibadah. Lalu beliau mengatakan, bahwa sesungguhnya orang-orang tersebut sebenarnya berada dalam lumuran dosa dan mereka lebih berbahaya daripada pencuri dan pembuat keonaran.
Bahkan menurut anregurutta, kedua ibadah tersebut (lahir dan batin) tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, karena tidak ada suatu ibadah dzahir tanpa diikuti oleh ibadah batin, begitupun dengan sebaliknya. Beliau melanjutkan bahwa jika seorang hamba dapat melakukan kedua ibadah tersebut, maka itulah yang dimaksud oleh ungkapan sufi “barang siapa yang mengetahui dirinya berarti ia juga mengetahui tuhannya”, yaitu mengetahui dirinya sebagai hamba dengan melaksanakan perintah-perintah Allah Swt. dan menjauhi segala larangan-Nya.
Anregurutta Abdurrahman ambo dalle sangat tidak setuju dan menentang paham-paham tarekat yang tidak memiliki dasar dari al-quran dan hadis nabi Muhammad Saw. dan beliau menyatakan bahwa paham seperti ini adalah suatu jalan yang dapat menyesatkan manusia, bahkan bisa membawa sebuah kekafiran.
Kecenderungan pemikiran tasawuf anregurutta dalam kitabnya tidak terlepas dari kehidupan masyarakat, utamanya masyarakat bugis pada waktu itu, yang mana sangat banyak diperbincangkan dikalangan masyarakat mengenai masalah-masalah ibadah dengan paham-paham atau tarekat yang salah dan melenceng, serta juga tidak terlepas dari kitab-kitab yang menjadi bacaan beliau ketika masih berguru kepada anregurutta sade di sengkang.
Dalam karyanya yang berjudul al-hidayah al-jaliyah ila ma’rifat al-‘aqaid al-Islamiyah, anregurutta Abdurrahman ambo dalle membahas serta menjelaskan mengenai tarekat-tarekat yang menjauhkan kita dari ketauhidan. Beliau menjelaskan hendaknya setiap orang yang ingin menempuh jalan ketauhidan yang hakiki terlebih dahulu mengenal dan memahami tarekat-tarekat (jalan-jalan) yang menyimpang dan mengarah kepada kebodohan sehingga mengarahkan kepada kesesatan.
Beliau mencontohkan paham-paham tarekat yang salah dengan menghadirkan beberapa contoh seperti mereka yang mengklaim “siapa yang masuk dalam lingkup tarekatku, maka aku akan menjamin keselamatannya di dunia dan memastikan ia masuk surga” dan juga mereka yang mengatakan “tarekatku mendalami hakikat yang sesungguhnya. Siapa yang tidak memasuki lingkaran ini maka ia belum menemukan hakikat yang sejati”.
Serta ada pula yang berpendapat “tarekatku mengajarkan ragasia hakikat yang langsung diterima nabi muhammad saw. Dari Allah Swt. swt tanpa perantara malaikat, sehingga nabi tidak mengajarkannya kepada semua sahabat. Dan masih banyak lagi contoh-contoh yang beliau paparkan dalam kitabnya.
Dalam karyanya yang sama, beliau juga menghadirkan bantahan dan sanggahan terhadap paham-paham yang salah, baik dengan dalil aqli maupun dalil naqli. Anregurutta membantah dengan mengatakan dalam kitabnya “apakah keselamatan itu milik mereka sehingga mereka berani mengklaim mampu memberi keselataman?, apakah mereka yang menciptakan surga sehingga berani menjamin bahwa yang mengikuti ajarannya akan masuk surga? Ingatlah! Yang memberikan keselamatan dan berhak memasukkan seseorang kedalam surga hanyalah Allah Swt. Hal itu adalah hak prerogatif-Nya. Allah Swt. swt. Berfirman :
هُوَ اللّٰهُ الَّذِيْ لَآ اِلٰهَ اِلَّا هُوَۚ اَلْمَلِكُ الْقُدُّوْسُ السَّلٰمُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيْزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُۗ سُبْحٰنَ اللّٰهِ عَمَّا يُشْرِكُوْنَ ٢٣
“Dialah Allah Swt. Yang tidak ada tuhan selain Dia. Dia (adalah) Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahadamai, Yang Maha Mengaruniakan keamanan, Maha Mengawasi, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, dan Yang Memiliki segala keagungan. Mahasuci Allah Swt. dari apa yang mereka persekutukan”.
Serta beliau membantah dengan mengatakan setiap tarekat yang tidak berlandaskan al-quran dan hadis shahih maka dapat dipastikan merupakan pemahaman yang sesat dan menyesatkan, Allah Swt. berfirman:
اَلْحَقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَࣖ
“Kebenaran itu dari Tuhanmu. Maka, janganlah sekali-kali engkau (Nabi Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu”.
Dan di ayat lain, Allah Swt. swt berfirman:
فَمَاذَا بَعْدَ الْحَقِّ اِلَّا الضَّلٰلُۖ
“Tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kesesatan”.
Dari penjelasan-penjelasan diatas dapat kita pahami bahwa setiap ajaran yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan berlandaskan hadis nabi tidak mengandung kebenaran dan hanya akan membawa kepada kesesatan.
Melalui karya beliau al-Qaul al-Shadiq fī Ma‘rifatil Khāliq, Anregurutta Abdurrahman ambo dalle menegaskan bahwa syariat dan tasawuf adalah dua unsur yang harus berjalan bersama. Ibadah lahiriah dan batiniah tidak boleh dipisahkan, sebagaimana para ulama besar seperti Imam al-Ghazali dan Junaid al-Baghdadi juga menegaskan pentingnya keseimbangan antara keduanya. Syariat mengatur amal fisik, sementara tasawuf memperhalus hati agar ibadah tersebut bernilai di sisi Allah Swt.
Anregurutta menolak keras paham-paham tarekat yang menyimpang, terutama yang mengklaim dapat memberi jaminan keselamatan atau mengatasnamakan ajaran yang tidak bersumber dari al-Qur’an dan hadis. Ia menegaskan bahwa keselamatan dan surga sepenuhnya berada di tangan Allah Swt., dan bahwa setiap jalan spiritual yang tidak berdasar pada wahyu hanyalah kesesatan.
Dengan demikian, tasawuf yang benar adalah tasawuf yang bersumber dari ajaran Rasulullah saw., berpijak pada syariat, serta menyucikan hati tanpa meninggalkan kewajiban-kewajiban agama. Inilah corak tasawuf sunni yang diajarkan Anregurutta—tasawuf yang menyeimbangkan antara dzahir dan batin, antara amal dan ma‘rifat, sehingga seorang hamba dapat mengenal dirinya dan dengan itu semakin mengenal Tuhannya.