
Oleh: Muh. Rifky Rustan
Setiap hal yang dianut oleh suatu generasi pasti akan melewati pasang surut didalamnya, apalagi suatu peradaban yang besar pasti pernah menjalani hal tersebut. Pasang surut itu bukanlah sesuatu yang aneh, tapi itu merupakan salah satu yang dapat membentuk karakter suatu peradaban, bahkan menjadi sesuatu yang perlu dan tidak bisa dihindari oleh suatu peradaban.
Islam pun telah banyak mengalami pasang surut pada setiap generasinya, memiliki masa kemajuan dan masa kemunduran. Masa kemajuan islam sangat terasa ketika berdirinya dua kerajaan besar yakni Dinasti Umayyah dan Dinasti Abbasiyah yang ditandai dengan majunya peradaban islam dari berbagai bidang yakni matematika, astronomi, kedokteran, kimia, fisika, arsitektur, ekonomi, dan militer.
Hasil dari kemajuan islam di masa lampau masih kita rasakan manfaatnya hingga saat ini. Angka 0 yang dikonsepkan oleh Al-Khawarizmi, metode pengobatan dengan menyuntikkan obat dibawah kulit yang ditemukan oleh Ibnu Sina, dan masih banyak lagi kebermanfaatan yang dipelopori oleh tokoh-tokoh islam.
Di samping berbagai bentuk kemajuan islam yang telah dirasakan, kita tidak dapat menutup mata bahwa islam juga pernah mengalami berbagai problematika baik dari internal maupun eksternal. Beragam problematika yang telah dilalui oleh islam yang telah terukir dalam sejarah, pemahaman yang kaku terhadap teks Al-Qur’an yang dilakukan beberapa kelompok melahirkan ideologi yang ekstrem juga kedangkalan ilmu yang dimiliki oleh kelompok tersebut menimbulkan fanatik terhadap pemahaman yang ia pegang.
Kelompok-kelompok dalam bentuk ormas islam di dunia sudah sangat banyak kita temui di mana-mana terlebih lagi di Indonesia, juga beragam ideologi yang dipegang oleh kelompok-kelompok tersebut membuat cara pandang setiap kelompok berbeda, diantara kelompok yang terkenal di Indonesia adalah NU dan Muhammadiyah. Keduanya memiliki sudut pandang atau metode yang berbeda dalam menyikapi suatu persoalan, contohnya ketika mereka ingin menentukan waktu masuknya bulan ramadhan, yang di mana NU menggunakan metode ru’yatul hilal , sedangkan Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiky wujudul hilal.
Hal ini bukanlah suatu bentuk perpecahan islam, sebab metode-metode yang digunakan juga pernah dipraktekkan oleh nabi dan para sahabat. Keberagaman pendapat itu serta metode yang digunakan dalam memecahkan suatu persoalan merupakan bentuk toleransi islam kepada para mujtahid dalam menetapkan hukum, dan hal tersebut sah-sah saja menurut fikih.
Perbedaan pendapat dalam islam sudah terjadi sejak zaman para sahabat, pada saat itu terjadi perang shiffin yang menjadi cikal bakal lahirnya ideologi yang sangat mudah menyalahkan kelompok lain atau suatu individu yang berselisih paham dengan kelompoknya. Terdapat kelompok Madzhab Khawarij yang merasa kelompoknyalah yang paling benar berdasarkan Al-Qur’an. Kemudian melahirkan doktrin yang menyebabkan sesama muslim wajib dibunuh, dan halal darahnya sebab orang yang tidak sepaham dengannya merupakan dosa besar sehingga mereka menganuti ideologi ekstremisme ketika menyikapi suatu persoalan.
Terdapat beberapa faktor sebagai penyebab penyimpangan yang dilakukan oleh mereka, dan hal ini telah dipaparkan oleh Syekhul Islam Ibnu Taimiyah, diantaranya:
– Menyamaratakan antara kesalahan dan dosa.
Ibnu Taimiyah rahimahullah barkata dalam Majmu’ Fatawa: “kelompok-kelompok sesat menyamaratakan antara kesalahan dan dosa. Kadangkala mereka bersikap berlebihan dalam masalah ini. Ada yang berkata: “orang-orang itu ma’sum” dan sebagian lagi berkata : “Orang-orang itu termasuk pembangkang karena kesalahan yang dilakukannya!” Ahli ilmu bukanlah orang yang ma’shum dan bukan pula orang yang tidak berdosa.
– Kesalahan dalam memahami nash
Kesalahan mereka dalam memahami nash-nash yang berisi ancaman dan beberapa masalah yang ada kaitannya dengan takfiri terhadap kaum muslimin. Kesalahan mereka juga disebutkan oleh Ibnu Taimiyah dalam kitab Dar’u Ta’arudh Al-Aql wan Naql bahwa kaum khawarij mentakwil nash-nash Al-Qur’an dan As-Sunnah secara keliru dan mengkafirkan orang-orang yang berselisih paham dengan mereka.
Dari sinilah muncul kelompok-kelompok bid’ah dan menyimpang, diantara mereka ada yang mencela salafus shaleh mereka adalah pelaku dosa dan berhak dilaknat. Bahkan mereka tidak segan untuk memvonis para salafus shaleh adalah fasik bahkan kafir, sebagaimana sikap takfiri yang pernah di dilakukan oleh para kaum khawarij kepada para sahabat nabi seperti Ali bin Abi Thalib, Usman bin Affan dan orang-orang yang mendukungnya dengan mencela, memaki mereka, dan bahkan menghalalkan darahnya untuk dibunuh.
Terdapat juga kelompok lain yang memiliki ideologi fanatisme yang menutup pintu kebenaran dari luar kelompoknya dan menutup telinga terhadap apapun yang disampaikan kepada mereka, sebab mereka sudah sangat ta’assub atau fanatik buta terhadap satu pemahaman. Hal ini pun sudah lama dikecam oleh para ulama karena dapat menutup pintu ijtihad yang dapat memundurkan pemikiran islam terhadap hukum baru serta menghambat persatuan umat.
Beberapa fenomena tadi, terdapat ideologi-ideologi melenceng yang telah berkembang dan tersebar di kaum muslimin. Adapun hasil yang ideologi-ideologi itu maka lahirlah ideologi takfirisme yang mengklaim kelompok lain yang di luar dari pada kelompoknya sebagai kafir.
Takfirisme merupakan salah satu ideologi yang telah terbentuk dari ideologi-ideologi yang sangat menyimpang dari ajaran islam. Istilah takfirisme berasal dari kata “kaffara” yang berarti mengkafirkan seseorang, maka takfirisme juga dapat diartikan sikap yang mudah mengkafirkan sesama muslim hanya karena perbedaan pandangan, mazhab, atau praktik ibadah. Fenomena ini sangat banyak mengundang mudharat yang amat besar bagi kaum muslimin yang dapat memicu perpecahan bahkan pertumpahan darah bagi kaum muslimin sendiri.
Dampak negatif yang dipicu oleh takfirisme bukan hanya di rana teologi, akan tetapi bisa berdampak di sosial dan politik. Dalam kemasyarakatan pun sangat berdampak buruk, sikap terlalu mudah untuk mengkafirkan seseorang dapat menimbulkan diskriminasi dan saling membenci diantara kaum muslimin. Contoh kelompok radikal yang saat ini dapat kita temui diberbagai platform adalah ISIS, mereka bergerak dengan mengatasnamakan jihad, hal tersebut dapat mencoreng nama baik islam di mata dunia. Individu-individu yang rentan pun menjadi sasaran empuk bagi kelompok itu agar dapat lebih mudah dalam memprovokasi mereka untuk bergerak. Salah satu bentuk pergerakan mereka adalah menggunakan salah satu sosial media (twitter) untuk merekrut anggota baru, menyebarkan ideologi mereka, serta mendorong anggotanya untuk melancarkan aksi-aksi seperti bom bunuh diri, melakukan teror, dan aksi-aksi lain yang melenceng dari ajaran Islam.
Ideologi mereka pun sangat mudah masuk dibeberapa masyarakat yang renta, sebab tidak kuatnya dasar akidah yang dimiliki individu tersebut. Maka berangkat dari peristiwa ini, tugas para pendakwah untuk menyebarkan dan memperkokoh pemahaman masyarakat awam terutama berkaitan dengan dasar-dasar akidah Islam.
Maka jalan keluar dari takfirisme adalah kembali kepada prinsip Islam yang moderat, penuh kasih, serta menghargai perbedaan. Sebab dunia Islam saat ini sangat membutuhkan kebangkitan intelektual yang berbasis pada nilai-nilai washatiyah, dan membuka pemikiran umat islam terhadap rasional dalam menghadapi tafsir sempit yang melahirkan takfirisme.
Pada akhirnya, ideologi takfirisme merupakan ideologi yang melenceng dari hakikat ajaran Islam yang menjunjung tinggi sikap moderat dan saling menghargai setiap perbedaan terkait perkara yang dihadapi umat Islam. Takfirisme juga sudah sangat tersebar di berbagai tempat dan berbagai platform media sosial yang memudahkan mereka dalam menyebarkan pemahaman mereka.
Takfirisme tidak lahir dari ajaran Islam, akan tetapi ideologi ini berasal dari penyimpangan dalam memahami agama Islam. Maka meneguhkan dasar-dasar akidah Islam yang sebenarnya sangat perlu untuk diajarkan dan ditanamkan kedalam hati semua umat muslim, agar usaha mereka dalam menyebarkan ideologi yang menyimpang itu dapat diatasi oleh kaum muslimin.
Inilah waktunya bagi seluruh umat Islam untuk mengembalikan pemahaman kaum muslimin kepada hakikat ajaran Islam, dengan membawa pemahaman moderat ketika menghadapi suatu permasalahan. Maka dengan akhlak, ilmu, juga cinta, dapat menundukkan ideologi takfirisme. Seirama dengan sabda Rasulullah SAW: “Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan akhlak yang mulia”.