
Oleh: Muhammad Safaraz Sulaiman
Sebagai umat yang beragama, tentu kita tidak bisa terlepas dengan yang namanya agama. Agama bertujuan sebagai pedoman hidup terhadap manusia untuk mengetahui makna dan urgensitas kehidupan. Tanpa adanya agama, manusia akan kehilangan arah dan tujuan karena hanya mengejar dunia yang fana. Melalui ajaran agama, manusia bisa mengetahui darimana ia berasal, untuk apa ia hidup dan kemana ia akan kembali.
Tapi di zaman ini kita sering menemukan fenomena ganjil yang terjadi di sekitar kita: tampaknya agama di permukaan tetapi ruhnya perlahan menipis. Rumah-rumah ibadah yang banyak bermunculan dan simbol-simbol agama yang beraneka ragam, namun keheningan batin dan kedalaman maknanya sudah jarang dijumpai. Dan peristiwa ini disebut juga sebagai dekadensi spiritual atau kemunduran dan kemerosotan terhadap rohaniah keagamaan.
Sebelum melangkah lebih jauh penulis akan memaparkan pengertian dari agama itu sendiri. Dikutip dari kitab milal wa nihal sebuah diktat dari fakultas Ushuluddin Universitas Al azhar Cairo, makna agama secara etimologi adalah ketaatan, aqidah, dan balasan terhadap amal. Sedangkan secara terminologi agama berarti ketetapan tuhan yang mengarahkan orang-orang yang berakal sehat atas pilihan baik mereka terhadap apa yang baik bagi mereka.
Pada hakikatnya agama hadir dikehidupan ini sebagai wadah bagi manusia untuk mengenal tuhan dan menghadiahkan ketenangan dalam jiwa. Ia sebagai pengatur, penata, pengelola di kehidupan ini agar manusia tidak jatuh ke dalam jurang kehancuran. Dan manusia bisa merasakan arti yang sesungguhnya dari sebuah kehidupan Sehingga manusia bisa mengenal dirinya sendiri dan melalui dirinya,ia mengenal Tuhannya.
Di sisi lain agama juga sangat berpengaruh bagi manusia dari aspek sosial. Karena agama tidak hanya mengatur kepatuhan terhadap Tuhan tapi lebih dari itu, yaitu menjaga hubungan antar sesama manusia. Karena agama mengajarkan ketaatan dan kedisiplinan sehingga seseorang yang taat terhadap agama akan memiliki sikap terpuji sehingga bisa membangun kebersamaan dengan manusia lainnya. Namun ketika kita melihat kenyataan yang terjadi saat ini, apakah tujuan dari agama itu masih terealisasikan atau hanya sebagai ritual yang kehilangan sosok keharmoniannya.
Di zaman sekarang ini kita seringkali menemukan bahwasanya agama hanya dijadikan sebagai formalitas. Kebanyakan orang menjalani perintah Tuhan bukan karena kecintaannya terhadap agama atau ingin mencari makna dan hakikat dari agama itu sendiri. Tapi tidak lebih dari itu, ia hanya dilaksanakan karena adanya tekanan sosial atau kebiasaan turun temurun yang telah diwariskan oleh keluarganya.
Contoh permasalahan yang sering kita temukan bahwasanya agama hanya dijalankan karena tuntutan sosial semata yaitu ibadah karena takut penilaian orang. Banyak dari kita melaksanakan ibadah atau datang ke tempat peribadatan bukan karena ingin berjumpa dengan Tuhannya tapi takut dianggap buruk oleh masyarakat sekitar ketika tidak mengerjakannya. Sehingga akan memberikan kesan bahwasanya ibadah itu bukan sarana untuk berdialog dengan Tuhan melainkan sebagai wadah untuk pertunjukan kesalehan sosial.
Adapun maksud dari pelaksanaan agama karena adanya kebiasaan turun menurun, yaitu menjalankan ajaran agama hanya karena mengikuti tradisi keluarga atau masyarakat bukan karena kesadaran pribadi atau pemahaman yang lahir dari hati dan akal. Artinya, nilai-nilai dan tradisi agama hanya diterima secara pasif bukan karena pencarian atau perenungan diri. Sebagai contoh, seseorang melafazkan suatu doa atau mengikuti bentuk ibadah tertentu tapi tidak tahu apa arti dari doanya dan makna spiritual dibalik pelaksanaan ibadahnya.
Dan permasalahan yang dipaparkan oleh penulis itu sesuai dengan perkataan Seyyed Hossein Nasr, seorang filsuf dan guru besar di berbagai universitas di dunia barat. Beliau berpendapat bahwasanya masyarakat modern telah kehilangan visi keilahian pada jiwanya, suatu agama menjadi terpinggirkan, dan spritualitas manusia menjadi hampa.
Beberapa contoh diatas merupakan gambaran dekadensi agama secara umum. Lalu bagaimana dengan agama islam itu sendiri, apakah di islam juga terjadi yang namanya dekadensi spritual ataukah tidak? Mungkin pertanyaan ini bisa terjawab dengan melihat kenyataan yang telah terjadi dan pernyataan yang jujur dari masing-masing hati nurani seorang muslim.
Pada dasarnya, islam merupakan ajaran ilahi yang mustahil mengalami kemunduran karena sumbernya wahyu dan kebenaran yang tetap terjaga kesuciannya sampai kapanpun. Tetapi jika kita memandang seorang muslim bukan islamnya yang statusnya juga sebagai seorang manusia biasa, itu pun bisa mengalami kelemahan dan degenerasi spritual. Dan ini bisa terjadi disebabkan oleh banyak hal diantaranya ketika ruh keislaman terkikis oleh formalitas, diperbudak oleh hawa nafsu, dan terlalu cinta kepada dunia.
Definisi di atas sesuai dengan perkataan Ibnu Qayyim Al-Jauziyah, seorang ulama islam yang ahli dalam beberapa disiplin ilmu. Beliau mengatakan di dalam kitabnya Al-fawaidh “Agama ini akan tetap tegak sampai hari kiamat namun yang berpaling darinya adalah hati-hati yang telah mati oleh cinta dunia“. Menelusuri makna dari perkataan beliau bisa diartikan bahwasanya islam tidak akan pernah padam selamanya tetapi manusia yang kehilangan ruh keimanan dan ketakwaan akan mengakibatkan adanya suatu kemerosotan ilahi terhadap diri seorang muslim.
Contoh dekadensi yang sering terjadi di kalangan kaum muslimin adalah banyaknya orang yang sholat tapi tidak mengetahui hakikat dari bacaan dan gerakan shalatnya. Ini menunjukkan bahwasanya shalat itu hanya sebuah kewajiban formalitas bukan sebuah kebutuhan spritualitas. Dan ini adalah sesuatu yang sangat perlu kita perhatikan sebagai seorang muslim agar shalat dan ibadah kita tidak hanya menjadi sebuah rutinitas sehari-hari yang minim dalam memahami maknanya. Melainkan menjadi momen untuk mendekatkan diri kepada Allah, sesuai dengan firman-Nya اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠ فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ Artinya: Sesungguhnya Aku adalah Allah tiada Tuhan selainku, sembahlah aku dan dirikanlah sholat untuk mengingat-Ku (QS Taha:14)
Ayat ini menegaskan bahwa shalat itu memiliki tujuan utama untuk mendekatkan jiwa kepada Allah. Pemahaman yang mendalam terhadap bacaan shalat akan menjadikan seseorang khusyuk di dalam sholatnya. Sehingga semata-mata hanya menjadi ritual fisik tetapi menjadi pengalaman spiritual yang membawa ketenangan hati dan jiwa.
Maka tulisan ini hadir sebagai reminder terhadap kita semua dan terkhusus juga bagi penulis agar selalu memperbaiki diri dan menghidupkan ruh keagamaan agar senantiasa melekat dalam jiwa dan pribadi kita masing-masing. Sehingga dari tulisan ini kita bisa menarik kesimpulan bahwasanya fungsi agama di dalam kehidupan manusia adalah sebagai sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan untuk menjaga keharmonisan sosial.
Namun karena pengaruh perkembangan zaman yang menjadi tantangan bagi umat manusia sehingga menimbulkan terjadinya dekadensi spiritual. Yang di mana ritual keagamaan hanya sebagai formalitas tanpa adanya penghayatan makna. Ibadah pada fenomena ini terjadi bukan karena dorongan cinta dan kesadaran akan Tuhan, melainkan hanya karena tekanan sosial atau kebiasaan turun menurun dari keluarganya.
Maka sudah semestinya kita kembali menyalakan ruh keagamaan dalam diri kita karena hakikat beragama itu bukan pada ritual yang terlihat, melainkan pada getaran batin yang mengantarkan jiwa pada ketenangan.